RITUAL SAKRAL SIGARUANG TELLI TANAH LUWU. SOLUSI AMPUH AKHIRI KONFLIK SKALA BESAR

Tanah Luwu yang umumnya dikenal dengan nama Palopo pernah menjadi sebuah kerajaan yang cukup besar dan Berjaya. Sampai saat ini masyarakatnya masih banyak yang mematuhi peraturan adat. Hal ini dapat dibuktikan dengan berperannya lembaga adat dalam menyelesaikan seuatu perselisihan di dalam masyarakat.

Ikon Tanah Luwu

Masyarakat Luwu masih sangat menghormati Datu sebagai orang yang berkuasa atas Adat di Tanah Luwu. Hal ini dapat dilihat ketika seseorang terpilih menjadi bupati atau wali kota Palopo, maka yang pertama kali ditemui adalah Datu Luwu seraya meminta izin untuk menjabat sebagai kepala pemerintahan dan siap untuk dikritik ketika lalai dalam menjalankan pemerintahan.

Sejak zaman dahulu masyarakat Luwu mempraktekkan mediasi dalam menyelesaikan setiap permasahan, termasuk konflik. Sebab mereka percaya dengan menyelesaikan masalah dengan cara damai, maka akan mengantarkan mereka dalam kehidupan yang harmonis, adil, seimbang dan terciptanya nilai-nilai kebersamaan yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Penyelesaian konflik atau sengketa dalam masyarakat mengacu pada prinsip “kekebasan” yang menguntungkan kedua belah pihak. Jalur musyawarah merupakan jalur utama dalam menyelesaikan sengketa, karena musyawarah akan membuat kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

Terkait dengan penyelesaian konflik dalam masyarakat. Di Tanah Luwu memiliki kearifan lokal yang masih relevan digunakan hingga saat ini, salah satunya adalah mekanisme penyelsaian konflik melalui upacara Sigaruang Telli. Dapat dikatakan bahwa konflik yang terjadi di Kabupaten Luwu tidak hanya diselesaikan melalui hukum formal, akan tetapi juga diselesaikan melalui hukum adat, yakni dengan melakukan perdamaian, seperti konflik akibat perbedaan latar belakang budaya, yakni yang terjadi antar orang Rongkong dan Baebunta dll. Konflik tersebut diselesaikan melalui upacara Sigaruang Telli. 

Ritual Sigaruang Telli merupakan cara penyelesaian konflik melalui adat istiadat masyarakat Luwu. Aksi tersebut bersifat mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai, dengan tujuan apabila selesai berdamai maka tidak ada dendam diantara mereka, namun sebaliknya mereka kembali bersaudara. Selain itu melibatkan lembaga adat sebagai mediator pihak-pihak yang bertikai. Disamping itu Sigaruang Telli juga merupakan perwujudan permohonan maaf kepada sang pencipta atas kekhilafan yang telah dilakukan, selain itu juga para pihak yang berkonflik diharapkan mengakui kesalahannya dan meminta maaf serta berjanji tidak akan mengulanginya perbuatannya.

Dapat dikatakan, bahwa semua permasalahan yang terjadi di Tanah Luwu yang berujung pada sengketa atau konflik, baik konflik vertikal maupun konflik horizontal, ampuh diselesaikan dengan melakukan perdamaian (Ritual Sigaruang Telli). Seperti halnya konflik di Baebunta dan konflik di walenrang, semua dapat diselesaikan melalui cara Sigaruang Telli.

Fenomena ini tercermin betapa kearifan lokal masi sangat berfungsi untuk sebuah unifikasi hukum secara nasional. Pranata adat sebagai salah satu bentuk penyelesaian perselisihan (konflik) di luar pengadilan (alternative dispute resolution), dengan biaya murah prosesnya cepat dan singkat, serta keputusannya dapat langsung dilaksanakan tanpa menimbulkan rasa dendam dikemudian hari.

_AHP

Komentar